BERITABUANA-Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya meninggi di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Mujamil (56) sudah berdiri di bengkel las sederhana di depan rumahnya. Tangannya yang kasar menggenggam stang las listrik, wajahnya terlindung topeng pelindung. Percikan api menyembur—kecil, berkilau, lalu padam. Begitu terus, hari demi hari, tahun demi tahun. Dari percikan api itulah keluarganya bertahan hidup.
Namun di balik rumah sederhana di Jalan Sejati, Gang Kasah 1, RT 21, Sambutan, tersimpan nyala lain yang tak pernah padam. Namanya Laila Nur Azizah—akrab disapa Ella—gadis belia kelahiran Samarinda. Ella adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Di usianya yang baru 19 tahun, ia tampil sederhana dengan tutur kata lugas. Di matanya tersimpan keyakinan yang sulit dijelaskan—seperti seseorang yang tahu ke mana ia akan melangkah, meski jalannya panjang dan berliku. Dan jalan itu membawanya jauh: ke Kairo, Mesir.
Ella tak ingat persis kapan pertama kali bermimpi kuliah di luar negeri. Mungkin saat masih di MIN 2 Samarinda, atau ketika keluarganya sempat tinggal di Ponorogo, Jawa Timur, dan ia menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 2 Nglumpang. Yang ia ingat adalah perasaan kagum saat melihat orang-orang yang pernah belajar di luar negeri.
“Dulu saya melihat mereka seperti ‘wow’,” ujarnya, tersenyum.
Bagi Ella, “wow” bukan sekadar kekaguman. Ia melihat perbedaan—cara berpikir, cara berbicara, cara memandang dunia. Sejak itu, ia bertekad suatu hari harus bisa seperti mereka. Mimpi itu sempat redup. Ia melanjutkan pendidikan di SMPIT Al-Hidayah Tenggarong, lalu MAN 2 Samarinda. Hingga akhirnya, di kelas 12, mimpi itu kembali menyala—lebih kuat dari sebelumnya.
Mantap Memilih Al-Azhar
“Saya ingin mendalami ilmu agama dan berada di lingkungan yang mendekatkan saya pada Islam,” kata Ella.
Baginya, Al-Azhar bukan sekadar kampus. Berdiri sejak tahun 970 M, universitas ini adalah salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia, tempat lahirnya ulama dan cendekiawan besar dari berbagai penjuru dunia.
Kini, mimpi besar itu dipanggul oleh seorang anak tukang las dari gang kecil di Samarinda.
Ella tahu mimpinya tidak bisa dicapai dengan langkah biasa. Sejak September 2024, sepulang sekolah, ia bersama sahabatnya, Rahmi Zahratunnisa, rutin belajar bahasa Arab ke rumah seorang ustaz.Perjalanan jauh tak pernah jadi alasan untuk absen. “Capek itu urusan nanti,” kenangnya.
Selama berbulan-bulan mereka menekuni bahasa Arab—bahasa yang tidak mudah, dengan struktur dan pengucapan yang kompleks.
Desember 2025, Ella mendaftar program Tahdid Mustawa, jalur mandiri untuk melanjutkan studi ke Mesir. Februari 2026, ia mengikuti ujian penentuan level bahasa. Maret 2026, ia mulai program pembekalan bahasa (Darul Lughoh) selama tiga bulan, tinggal jauh dari orang tua di rumah kerabat. Masih ada satu tahap lagi: ujian mu’adalah, penyetaraan ijazah Indonesia dengan Mesir. “Kalau semua lancar, Insyaallah September 2026 saya sudah di Kairo,” ujarnya mantap.

Dua Sahabat, Satu Mimpi
Dalam perjalanan ini, Ella tidak sendiri. Rahmi adalah sahabat sekaligus rekan seperjuangan. Mereka saling menguatkan saat lelah, saling mendorong saat ragu. “Kami selalu saling support. Itu penting sekali,” kata Ella.
Di sekolah, Ella bukan siswa dengan nilai tertinggi. Namun di luar kelas, ia bersinar: juara lomba dai, syarhil MTQ, orasi, hingga baris-berbaris. “Saya memang lebih suka tantangan di luar kelas,” akunya.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah hasil. Laila Nur Azizah resmi diterima di Universitas Al-Azhar, Kairo, pada Program Studi Syariah Islamiyah. Sementara Rahmi diterima di Program Studi Sastra Arab di universitas yang sama. Dua sahabat yang dulu berjalan ke rumah ustaz, kini melangkah bersama menuju pusat peradaban ilmu Islam dunia.
Api di Bengkel, Api di Dada
Mujamil, sang ayah, tak pernah merasakan bangku kuliah. Hidupnya dihabiskan di antara besi, api, dan asap. Istrinya, Siti Apsoh (46), adalah ibu rumah tangga yang juga membantu usaha keluarga.
Ketika Ella menyampaikan niat kuliah ke Mesir, respons orang tuanya sederhana namun berarti. “Mereka bilang, coba saja.” Dukungan itu bukan hal kecil. Biaya kuliah di luar negeri jelas tidak ringan. Namun mereka memilih percaya pada anaknya.
Kini Ella terus berjuang mencari beasiswa demi meringankan beban orang tua. “Saya tidak ingin mereka terlalu terbebani,” ujarnya.
“Saya percaya, kalau kita berani keluar dari zona nyaman, pasti ada hal luar biasa yang kita dapatkan.” Kalimat itu bukan sekadar motivasi, tapi pengalaman hidup yang ia jalani sendiri—dari Samarinda ke Kediri, dari rumah ke tempat belajar, dari kenyamanan menuju ketidakpastian.
Perjalanannya tidak mudah. Banyak materi baru, tantangan bahasa, dan jarak dari keluarga. “Tapi saya yakin,” katanya singkat.
Pulang Membawa Manfaat
Ella tidak hanya bermimpi berangkat ke Kairo. Ia juga bermimpi untuk pulang. Ia ingin membawa ilmu yang didapat untuk masyarakat. Menjadi apa pun—guru, dai, atau peran lain—yang jelas, ilmunya harus bermanfaat. Dan mungkin suatu hari, di depan bengkel sederhana itu, sang ayah bisa berkata dengan bangga, “Anak saya kuliah di Al-Azhar, Kairo.”
Percikan api di bengkel Mujamil mungkin kecil dan cepat padam. Namun api di dalam diri Ella berbeda—ia menyala untuk perjalanan panjang.
Kisah ini bukan sekadar tentang kuliah di Al-Azhar. Ini adalah cerita tentang mimpi yang tumbuh dalam keterbatasan, tentang keyakinan yang melampaui batas, dan tentang keberanian melangkah. Di sebuah gang kecil di Samarinda, seorang anak tukang las sedang menulis takdirnya sendiri. (Ikhsan)






