BERITABUANA-Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul), DR. (HC) Irwan Hidayat, mengatakan bahwa berbagi di bulan Ramadan merupakan momen yang tepat untuk membantu kaum dhuafa dan anak-anak yatim.
“Berbagi kebaikan dan kasih sayang sangat penting bagi sesama, terutama di bulan Ramadan,” ujarnya.
Menurut Irwan, Ramadan menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperbanyak amal kebaikan, khususnya kepada mereka yang membutuhkan.
“Kalau berbagi kepada kaum dhuafa dan anak-anak yatim, memang tepat dilakukan di bulan Ramadan. Intinya adalah berbuat baik kepada sesama. Bahkan kepada orang yang mungkin tidak menyukai kita pun, kita tetap harus memaafkan. Kita harus berbuat baik, terlebih di bulan Ramadan ini,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut, Irwan juga memberikan nasihat kepada anak-anak yatim tentang dua anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu inteligensi dan akal budi.
Menurutnya, dengan inteligensi dan akal budi, manusia sejatinya dapat hidup sehat dan layak. Ia menilai, banyak masalah kesehatan muncul karena sikap rakus, sementara kehidupan akan berjalan lebih baik jika manusia mampu mengendalikan diri.
“Saya bisa mengelola Sido Muncul dengan inteligensi yang diberikan Tuhan dan akal budi. Akal budi itu hukumnya hanya satu, berbuatlah kepada orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Prinsip itu yang saya pegang ketika mengelola Sido Muncul,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dua bekal tersebut sejatinya cukup untuk membawa manusia menjalani kehidupan yang baik. “Tuhan sudah memberi dua bekal itu yang bisa membuat kita hidup sehat dan layak. Kalau kita tidak sehat, sering kali karena kita rakus, misalnya makan berlebihan. Itu yang membuat kita sakit,” lanjutnya.
Irwan juga berpendapat, jika dunia dikelola dengan baik dan tanpa keserakahan, maka semua orang memiliki kesempatan untuk hidup bahagia dan memperoleh penghidupan yang layak. “Kalau dunia ini dikelola dengan baik dan tidak rakus, saya rasa semua orang bisa hidup bahagia dan mendapatkan nafkah dengan baik. Inteligensi dan akal budi yang diberikan Tuhan seharusnya menjadi jaminan bagi manusia untuk hidup sehat, layak, dan bahagia,” katanya.
Irwan mengaku sejak kecil telah memahami pentingnya inteligensi dan akal budi dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam mengembangkan usaha. “Sejak kecil saya sudah memahami bahwa inteligensi dan akal budi itu sangat penting. Ketika saya membuat Tolak Angin dan produk jamu lainnya, saya berpikir bagaimana caranya agar orang mau minum jamu. Semua itu kami lakukan dengan uji toksisitas dan uji khasiat yang berbasis ilmiah,” jelasnya.
Ia menegaskan, bahwa dalam menjalankan bisnis maupun kehidupan, dirinya berpegang pada prinsip akal budi, yakni memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Prinsip tersebut, menurut Irwan, juga terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad SAW. “Seperti Nabi Muhammad SAW yang tetap mencintai orang yang menyakitinya. Beliau tidak membalas dengan kebencian, justru membalas dengan kasih sayang. Itu menurut saya yang harus kita lakukan sebagai orang beragama,” tuturnya.
Irwan menilai kisah Nabi Muhammad SAW sangat menginspirasi, khususnya ketika beliau tidak membalas perlakuan buruk seorang Yahudi yang sering mengganggunya. Bahkan ketika orang tersebut sakit, Nabi justru menjenguknya. Sikap penuh kasih tersebut akhirnya membuat orang itu tersentuh dan memeluk Islam.
“Mencintai anak sendiri atau teman itu hal biasa. Tetapi mencintai orang yang memusuhi kita, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, adalah sesuatu yang luar biasa. Itulah inti dari ajaran kebaikan,” pungkas Irwan Hidayat. (Ikhsan)





