BERITABUANA-Nita Budhi Susanti, istri Wakil Menteri Transmigrasi, menilai penyelenggaraan Pameran INACRAFT (The Jakarta International Handicraft Trade Fair) semakin menunjukkan peningkatan kualitas dari tahun ke tahun. Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara eksklusif bersama Redaksi Majalah INACRAFT, di mana ia menyoroti perkembangan produk, jumlah peserta, serta antusiasme pengunjung yang terus meningkat.
Menurut Nita, INACRAFT menjadi etalase penting bagi produk UMKM Indonesia yang kini dinilai telah siap bersaing di pasar internasional. Ia menilai kualitas desain produk kriya dan fesyen Tanah Air tidak kalah dengan negara-negara yang selama ini dikenal sebagai pusat mode dunia, seperti Paris.
“Dari sisi desain, produk Indonesia tidak kalah dengan luar negeri. Baik sepatu, tas, aksesori, hingga berbagai produk lainnya, kualitasnya sudah sangat baik,” ujar Nita.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekuatan besar dari sisi ketersediaan bahan baku (raw material), yang menjadi modal utama dalam pengembangan industri kreatif. Sebagai contoh, Nita menyinggung industri produk berbahan kulit buaya yang di pasar internasional dapat dijual dengan harga sangat tinggi, sementara bahan bakunya justru berasal dari Indonesia dengan harga yang relatif lebih terjangkau.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang perlu dibenahi, khususnya dalam hal teknologi produksi dan kerapian proses manufaktur agar produk lokal semakin kompetitif di tingkat global.
Dalam pandangannya, citra UMKM sebagai sektor menengah ke bawah juga mulai bergeser. Ia menilai banyak produk UMKM saat ini telah memiliki nilai jual tinggi dan menyasar segmen pasar menengah ke atas.
“Produk tas UMKM sekarang banyak yang harganya sudah di atas Rp2,5 juta. Itu artinya UMKM tidak lagi identik dengan produk murah. Bahkan produk makanan dan camilan pun sudah layak dikonsumsi pasar global,” katanya.
Nita juga menyoroti rencana pengembangan penyelenggaraan INACRAFT ke berbagai daerah, termasuk Yogyakarta, sebagai langkah strategis untuk memperluas akses perajin daerah yang belum memiliki kesempatan berpartisipasi di Jakarta. Menurutnya, ekspansi ini penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi kreatif tidak hanya terpusat di ibu kota, tetapi juga merata di daerah.
“Ini langkah luar biasa. Selama ini INACRAFT selalu diadakan di Jakarta, dan kini akan digelar di Yogyakarta pada 15–19 Juli, serta direncanakan menyusul di Makassar dan kota-kota besar lainnya. Ini memberikan semangat bagi perajin di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa biaya partisipasi dalam pameran, termasuk sewa stan, masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku UMKM. Oleh karena itu, ia mendorong adanya dukungan dari pemerintah daerah, asosiasi, dan perbankan, khususnya bagi UMKM skala kecil dan menengah.
Ia mencontohkan program kemitraan perbankan, seperti inisiatif Kampung BNI, yang mendukung perajin songket melalui pembiayaan, pendampingan kualitas, dan pemasaran. Menurutnya, model kemitraan semacam ini dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan daya saing UMKM.
Selain aspek pembiayaan, Nita juga menekankan pentingnya inovasi desain dan perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Ia mengingatkan agar pelaku usaha lokal tidak hanya meniru desain merek internasional, melainkan mengembangkan identitas desain asli Indonesia.
“Lebih baik produk lokal menggunakan bahan baku Indonesia dan desain yang benar-benar orisinal Indonesia, bukan meniru brand luar. Dengan begitu, karakter dan nilai jual produk kita akan lebih kuat,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendaftaran hak paten dan perlindungan karya, termasuk untuk batik dan produk budaya lainnya, agar Indonesia dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus menjaga daya saing di tingkat internasional.
Melalui INACRAFT dan pengembangan ekosistem UMKM, Nita berharap Indonesia dapat semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat produk kriya dan kreatif berbasis budaya, dengan identitas yang kuat, inovatif, dan berdaya saing global. (Ikhsan)





